Surabaya Eco School Didik Anak Sejak Dini Peduli Kebersihan

Sabtu, 07 Des 2019 | 22.57 WIB

Surabaya Eco School Didik Anak Sejak Dini Peduli Kebersihan

Wali Kota Risma menyerahkan penghargaan eco school. (Windhi/centroone)


Centroone.com- Ratusan siswa SD dan SMP, bersama sejumlah keluarga mengikuti Acara Awarding Surabaya Eco School di Gedung Graha Sawunggaling Lantai 6 Surabaya.

Para siswa yang mengikuti kegiatan berpakaian unik dari hasil daur ulang sampah. Awarding Eco School merupakan kegiatan penyerahan penghargaan kepada siswa, sekolah dan keluarga yang peduli lingkungan. 

Gerakan lingkungan yang diawali dari sekolah ini digelar ke sembilan kalinya di Surabaya.Wali Kota Surabaya Tri  Rismaharini menyampaikan, pentingnya kepedulian terhadap lingkungan. Menurutnya, saat ini di beberapa daerah terjadi banjir. Dia bersyukur, Kota Surabaya tak mengalami hal itu. Padahal, posisinya hanya terpaut 5 meter di atas permukaan laut.

“Tapi kenapa kita tak mengalami seperti daerah lain itu, karena kita mengelola sampah dengan baik. Kita sudah berusaha semaksimal mungkin menjaga lingkungan,” kata Wali Kota Risma, Sabtu (7/12/2019).

Wali kota perempuan pertama di Surabaya ini menyampaikan rasa terima kasih kepada para guru yang telah memberikan bimbingan kepada para siswanya agar peduli terhadap lingkungan. 

“Sesungguhnya pahlawan itu adalah mereka yang bisa menjaga bumi ini dengan baik. Untuk itu, atas nama Pemkot Surabaya saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya,” katanya di hadapan para guru, siswa dan orang tua siswa.

Wali Kota Risma mengakui, tidaklah mudah dalam mengelola lingkungan. Namun, menurutnya bersama Tunas Hijau, jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, maka kontribusinya tak hanya bisa dirasakan untuk Kota Surabaya saja, melainkan juga dunia.

 “Tak ada kata yang bisa saya ucapkan selain matur nuwun (terima kasih). Dan, Tuhan akan mencatat apa yang bapak-ibu lakukan,” tegasnya.

Dia bercerita, semasa awal menjabat wali kota, saat itu kondisi sungai begitu memprihatinkan, karena banyaknya sampah yang hanyut terbawa aliran air. 

Sampah-sampah yang dibuang ke sungai, termasuk perabot rumah tangga, sehingga petugas kadang kesulitan untuk membersihkannya. “Kasur, sofa, bahkan kursi dan tempat tidur hanyut di sungai. Tapi, alhamdulillah sekarang sudah sangat jarang dijumpai,” ujarnya.

Presiden UCLG Aspac ini mengakui, jika menanamkan program peduli lingkungan diberikan sejak usia dini, dampaknya luar biasa. Karena, hal itu tak pernah hilang dalam ingatan anak hingga tumbuh dewasa.

“Kalau kita menanam pohon sama dengan amal jariyah. Kita mati pohonnya masih memberikan oksigen untuk nafas orang lain, maka kita akan mendapatkan pahala terus menerus sampai pohon itu mati,”  ujarnya memberikan contoh.

Surabaya Eco School merupakan kegiatan pengelolaan lingkungan dengan mengajak masyarakat melalui sekolah-sekolah. Melalui kegiatan ini diharapkan, pengelolaan lingkungan yang dilakukan di sekolah merembet ke masyarakat.

 Selain sekolah, Surabaya Eco School juga diikuti 1.207 keluarga. Para peserta tersebut menampilkan program kepedulian lingkungan yang dilakukan di dalam lingkungan keluarga melalui media sosial berupa instagram.

Tahun ini sudah ada 84 sekolah SD dan SMP yang zero waste. Ini artinya, di sekolah tersebut tidak ada sampah non organik kemasan makanan minuman sekali pakai di lingkungannya.

Untuk diketahui, Surabaya Eco School 2019 merupakan program kegiatan peduli lingkungan, hasil kerjasama antara Tunas Hijau dan Pemkot Surabaya. Di tahun 2019, kegiatan ini diselenggarakan mulai bulan Oktober sampai dengan Desember. 

Capaian program ini, sebanyak 1.115 lubang biopori yang telah dibuat di sejumlah sekolah, untuk mengantisipasi genangan, 15.220 kilogram sampah organisk yang berhasil diolah, 7.200 kilogram sampah kertas yang telah diolah menjadi barang yang bermanfaat, kemudian 12 ribu kilogram jelantah yang telah diubah menjadi biodiesel. Selain itu, sedikitnya 9.306 tanaman hias dan 1.509 pohon yang ditanam di sekolah. (windhi/by).