Eksplorasi Museum Lewat Teknologi Virtual 3D

Minggu, 24 Sep 2017 | 21.00 WIB

Eksplorasi Museum Lewat Teknologi Virtual 3D

Aris, memeragakan museum virtual 3D (windhi/Centroone)


Centroone.com - Mengerjakan tugas akhir (TA) di setiap kampus bagi mahasiswa, selalu ingin menghasilkan yang terbaik. Apalagi, TA itu unik dan berguna bagi orang banyak, tentu kita akan bangga. Hal inilah yang dihasilkan beberapa mahasiswa ITS dalam menyelesaikan TA-nya dengan karya inovatif mereka. 

Diantara mahasiswa yang sudah menjadi wisudawan itu adalah I Gede Aris Darmayasa, dari Departemen Teknik Komputer. Dia membuat museum virtual 3D dengan lokasi Museum Mpu Tantular, yang menyilangkan konsep digital dan budaya. Ide pembuatan TA ini terinspirasi dari tantangan dosen yang menawarkan untuk membuat museum yang menarik bagi pengunjung.

Aris mengatakan, konsep dalam museum virtual 3D Mpu Tantular ini sebenarnya sudah banyak diciptakan di luar negeri, contohnya Taiwan. “Bedanya, dengan karya TA saya ini, pengunjung tidak hanya melihat secara virtual lewat kacamata tiga dimensi, tetapi juga bisa merasakan masuk sungguhan pada museum dan bisa mengenali benda-benda di museum dengan mudah karena disertakan penjelasan yang mudah dimengerti,” terang Aris yang diwisuda pada hari Minggu (24/9/2017).

Dari karyanya itu, pengunjung yang menggunakan museum virtual ini bisa mengeksplorasi sendiri museum virtual ciptaannya dengan petunjuk yang diberikan karena museum ini dilengkapi dengan sensor leap motion. Prinsip kerja sensor leap motion menggantikan kerja keyboard dan mouse lewat pancaran infrared yang bisa digantikan dengan tangan pengunjung. Museum Virtual ditampilkan dengan menggunakan TV 3D Steril yang dikonversikan dengan kacamata tiga dimensi untuk menampilkan gambar lebih nyata.

“Saya harap dengan adanya museum virtual di Mpu Tantular bisa menarik pengunjung dan memermudah edukasi museum kepada pengunjung. Dan lewat museum ini semakin berkurang paradigma bahwa wisata museum sangatlah membosankan,” tambah dia. 

Beda dengan Aris, wisudawan lain, Reyhan Pradantyo, mahasiswa Teknik Komputer Fakultas Teknologi Elektro (FTE) ITS, yang ingin menghilangkan paradigma bahwa wisata museum adalah wisata yang membosankan, juga memiliki karya TA berupa Simulator Symphonium. Yakni kotak musik yang dilengkapi aplikasi interaktif bagi pengunjung museum.

Reyhan mengatakan, inspirasi pembuatan aplikasi interaktif ini ialah ketika dia melihat kondisi sebuah kotak musik tua di Museum Mpu Tantular yang tidak bisa lagi digunakan oleh pengunjung. “Kotak musik tersebut hanya sebagai pajangan dan kurang diminati oleh pengunjung karena sudah tidak bisa dioperasikan,” kata Reyhan. 

Melihat kondisi tersebut, terbersitlah ide untuk membuat kotak musik digital yang dilengkapi aplikasi interaktif. “Interaktif yang dimaksud ialah pengunjung bisa merasakan langsung penggunaan kotak musik dan mengetahui cara pembuatannya melalui layar tablet,” jelas cowok kelahiran 10 September 1995 ini.

Ketertarikan Reyhan dalam mengembangkan kotak musik ini juga dikarenakan menurutnya kotak musik model lama dengan menggunakan piringan hitam adalah kotak musik yang sangat menarik. “Terlihat sederhana, punya kompleksitas tapi mudah mengoperasikannya,” tutur mahasiwa asal Surabaya tersebut.

Aplikasi yang diciptakan Reyhan ialah aplikasi berbasis digital yang dituangkan dalam sebuah tablet dengan desain kotak musik hampir mirip dengan kotak musik di Museum Mpu Tantular. “Sama-sama menggunakan piringan hitam, namun kotak musik ini dilengkapi dengan games serta info pembuatan kotak musik sehingga tidak membosankan,” jelas sulung dari dua bersaudara ini.

Pada aplikasi ini ditambahkan pula sejarah dari kotak musik Shymponium yang berasal dari Jerman dan telah ada di Indonesia sejak abad 18 tersebut. Pada Simulator Shymponium ini dilengkapi juga permainan cara merakit kotak musik yang sengaja dibuat mirip seperti aslinya untuk mengedukasi pengunjung.

Reyhan mengatakan, terkait simulator yang dibuatnya tersebut sudah diujikan pada pengunjung di museum Mpu Tantular, yakni anak sekolah dasar. Berdasarkan kuesioner yang disebar pada pengunjung, simulator ini mendapat respon yang baik dan didapatkan hasil bahwa pengunjung menjadi lebih aktif dan paham tentang kotak musik kuno tersebut. (windhi/by)